My Special Books Collection


Haruskan menjadi sales kaya? adalah pertanyaan yang  sering muncul dalam pikiranku selama menjadi seorang sales. Dan pertanyaan yang juga muncul adalah: Apakah jika aku tidak memikirkan menjadi Sales Kaya atau Sales yang bergelimang harta dan dipikiranku bukan karena komisi dan komisi , artinya aku salahkah?, dan sebenarnya duniaku itu bukan sales/tidak cocok menjadi sales ?

Ya, terus terang, pikiran itu kadang datang, apalagi aku tidak bisa memaksakan diri ini untuk berpikir harta-harta, komisi-komisi. Selama 7 (tujuh) tahun lebih menjadi sales aku tidak pernah menjadikan semua itu sebagai motivasi atau yang dikejar. Yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana customerku bisa happy bertransaksi denganku, juga kantor tempatku bekerja bisa happy dengan order yang aku bawa untuk membantu pencapaian semua  aspek target.

Dan, sama dengan jalan cerita buku-buku sebelumnya yang akhirnya aku miliki, saat berweekend ke Gramedia, aku langsung jatuh cinta dengan Buku Sales Kaya Sales Miskin yang ditulis oleh Tirta Setiawan. Yang membuat aku langsung memasukkan ke keranjang bukan karena aku mau menjadi Kaya Raya Bergelimang Harta, tapi aku mau tahu, mengapa aku tidak bisa berpikir karena harta dan apakah aku selama ini SALAH???  Apakah buku ini bisa meyakinkan aku atau membuat aku berubah?

Kemudian  ….kuterlarut membacanya :

saleskayasalesmiskin1  ……………………

  ……………………

  ……………………

  ……………………

 

Yes!!!   Seharusnuya aku bukan Sales Miskin!!! Lho??? Kok malah langsung menyimpulkan itu dan belum bahas mengenai Haruskah menjadi Sales Kaya??  Hehehe…bagi yang telah membaca buku ini, pasti akan merasa tertipu, tapi tertipu positif,  karena ternyata yang dimaksud Sales Kaya oleh buku ini bukan Sales yang kaya raya bergelimang harta, tapi Sales yang memiliki 10 sikap dasar untuk dapat disebut sebagai Sales Kaya. Ingat : SIKAP lho…bukan MATRE  :) .  Bagiku sangat menarik saat mengulas 10 sikap tersebut karena sebenarnya bukan hal baru bagi seorang sales, tapi 10 sikap yang akan direnungi apakah sudah di implementasikan dengan baik ???

Okey, kembali lagi ke Sales Miskin, mengapa aku langsung Yess!!! karena ternyata aku bukan sales Miskin??? Yah, dalam buku ini ada ulasan dari salah satu inspirator yaitu Ibu Lisa Kuntjoro, bahwa seorang sales tidak boleh hanya memikirkan transaksi dan komisi karena sales semacam itu adalah Sales Miskin. Sales Kaya justru memiliki pandangan sebaliknya, yaitu bagaimana membuat klien puas. Jika seorang sales sudah punya pandangan seperti itu, maka transaksi dan komisi akan mengikuti. Memuaskan klien berarti memenuhi keinginan dan kebutuhan mereka serta membantu memecahkan masalah.

Ada 5 (lima) pertanyaan pada buku yang ditulis oleh Sutanto Windura ini, yang membuat saya tertarik untuk membelinya, yaitu :

  • Tahukah anda buku manual otak anda?
  • Apakah belahan otak kiri atau otak kanan yang dominan Anda gunakan dalam hidup ini?
  • Apakah gaya belajar Anda yang paling optimal?
  • Apakah anda tahu kecerdasan dominan Anda?
  • Bagaimanakah kecenderungan Anda berkomunikasi dengan orang lain?

Ya, entah ya, sebenarnya hal-hal tersebut diatas bukan hal baru yang saya pernah dapatkan. Karena saat baru masuk kerja ke Astragraphia kita juga dapat sedikit materi tentang type-type  para pelanggan yang akan kita hadapi nanti. Tapi karena namanya ilmu, memang benar kalau harus selalu di refresh dan diupgrade. Banyak hal baru, menarik, ataupun hal-hal yang selama ini saya hadapi dan baru saya sadari dan analisa setelah membaca buku ini.

Kelebihan buku ini adalah semuanya diulas secara lumayan lengkap, sistematis, dan terintegrasi.

Hanya dalam waktu satu malam, saya langsung selesai membaca buku ini. Ya, itu menandakan kalau saya terhanyut dengan buku ini :)

Diawali dengan kebiasaan saya jalan-jalan ke toko buku, dan ketidaksengajaan saya melirik sebuah buku yang membuat saya penasaran karena warnanya (merah adalah my favorite color) dan judulnya : 13 WASIAT TERLARANG! Dashyat dengan OTAK KANAN, plus bonus CD yang seharga Rp 35.000, padahal harga buku dibawah 80 ribu. Setelah itu melihat sekilas isinya, dan ternyata cukup menarik sekali, apalagi saat membaca profile penulisnya: Ippho Santosa PhG, yang se usia dengan saya dan memiliki beberapa kesamaan sifat (kamar sulit utk rapi, tugas lebih suka diselesaikan sekaligus, suka dengan hal-hal baru termasuk bacaan baru + snap reading , suka dengan air,  dll ….hehe…emangnya kembaran, maksa bangettttt :)…..). So, my decision, BUY THIS BOOK !!!

Keputusan yang tepat untuk membeli buku ini adalah kesimpulan saya saat sudah mulai larut dalam membacanya. Selain analisa dan kajiannya tentang OTAK KANAN (berikut Right Test), adanya lelucon yang berkualitas di setiap bagian, membuat kita seakan-akan sedang rekreasi saat membaca buku ini. So, buku ini tidak terkesan menggurui tapi mengajak untuk menyadari pentingnya optimalisasi OTAK KANAN melalui 13 Wasiat yang dipaparkan dengan amat sangat menarik.

Setelah menguraikan 13 wasiat terlarang,  kita kemudian akan diberikan Right Tips, Informasi Right CD, penawaran Right Consulting, dan analisa tokoh-tokoh yang dikategorikan sebagai Right Person. Yang sangat menarik juga, pemaparan Right Person adalah hampir setengah halaman dari buku ini. Dan benar-benat bonus buat saya, ternyata beberapa dari tokoh yang dipaparkan adalah beberapa dari sekian tokoh yang saya jadikan teladan, guru, dan sumber inspirasi. Mereka itu adalah Ary Ginanjar Agustian, Neno Warisman, dan Oprah Winfrey. Bahkan, setelah membaca buku ini, sumber inspirasi saya sepertinya akan bertambah lagi satu orang, yaitu : Ippho Santosa PhG :)

Ya, Trima Kasih untuk Ippho yang sudah menuliskan buku yang menarik ini, sebuah buku yang ditulis dan dikemas dengan dominasi Otak Kanan…:)

Melanjutkan tulisan sebelumnya perihal Resolusi tahun ini, ada hal penting yang ingin saya tambahkan, yaitu semua rangkaian resolusi saya, dan semua aktifitas saya mulai tahun ini saya set atau initiate secara resmi adalah bagian dari proses persiapan untuk menikah.

Ya…J, saya cukup terinspirasi dengan tulisan adik kita Syamsa Hawa, dalam bukunya : SIAP-SIAP NIKAH yang juga bisa dilihat di Nada dan Reeda.

Sebuah karya yang cukup enak dan ringan untuk dibaca, dengan bahasa yang sederhana, gaya menulisnya lepas, dan sebuah tulisan dari hati nurani terdalam, sehingga bisa memberikan inspirasi buat kita sampai ke hati nurani juga…. Good Luck untuk Syamsa Hawa…

Akhirnya, setelah membutuhkan waktu tiga hari karena kegiatan yg sedikit padat, selesai juga saya membaca Buku Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy), yaitu : Ketika Cinta Bertasbih Episode 2.

 

Seperti dengan buku-buku Kang Abik sebelumnya, yang telah saya baca, buku ini juga banyak memberikan pesan moral yang dapat merasuk ke dalam jiwa dan yang pasti dapat membawa kita ke alam renungan untuk kembali mengevaluasi begitu banyaknya hal-hal  yang harus diperbaiki dalam menjalani hidup ini.

 

Saya sangat salut dengan sosok Azzam, yang berjuang semaksimal mungkin dalam menjalankan tanggungjawabnya untuk Ibu dan adik-adiknya. Dia rela mengorbankan waktunya selama 9 tahun untuk berbisnis dengan menunda penyelesaian kuliahnya. Semuanya dijalanlan dengan keikhlasan dan ikhtiar yang begitu besar hanya karena Allah. Sampai buah itu pun dipetiknya dengan kesuksesan yang diraih adik kandungnya, Ayatul Husna, menjadi penulis yang terbaik dan sampai mendapatkan penghargaan tingkat Nasional.

 

Bukan hanya kerja kerasnya dan legowo saja yang membuat saya kagum, tapi juga sikapnya yang tawadhu atau rendah hati. Dia tidak gengsi untuk mengawali semua bisnisnya dari nol walaupun di desanya iya dikenal sebagai lulusan dari Mesir. Tidak tanggung-tanggung Azzam menjalani perjalanan dengan truk keliling Jawa untuk mengantar buku-buku Islami kiriman dari Mesir dan juga Azzam tidak tanggung-tanggung untuk merintis sendiri warung baksonya dengan memasak sendiri dan melayani pelanggan seorang diri. Yang akhirnya iya pun, berhasil memetik dari semua kerjakeras dan sikap tawadhunya dengan memiliki beberapa cabang dan beberapa karyawan.

 

Apakah Azzam hanya di dunia bisnis bakso saja? Ternyata tidak, karena Azzam tetaplah seorang alumni Al-Azhar University Cairo yang cerdas. Yang mana, dia tetap memiliki waktu untuk mengisi Pengajian Al-Hikam di Pesantren Pak Lutfi (Ayah dari Anna Althafunnisa). Salah satu materi Pengajian Al Hikam yang saya sangat tertarik untuk menuliskan kembali di blog saya ini adalah :

  Kita sampaikan kalimat hikmah yang ditulis Ibnu Athaillah As Sakandari :     Man atsaba li nafsihi tawadhuan fahuwa al mutakabbiru haqqan!    Yaitu siapa yang yakin bahwa dirinya merasa tawadhu’ maka berarti dia benar-benar telah takabbur.   Kemudian:

   Laisa al Mutawadhi’u al-ladzi idza tawadha’a ra’a annahu fauqa ma shana’…

   Artinya: Bukanlah orang yang tawadhu’ atau merendahkan diri, seorang yang jika merendahkan diri merasa dirinya diatas yang dilakukannya,   Contohnya :   Ada orang yang merasa tawadhu’ dengan duduk di belakang suatu majelis, tapi pada saat yang sama ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah di atas yaitu duduk dibagian depan majelis itu. Maka orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah As Sakandari bukanlah orang yang tawadhu’. Bahkan sejatinya orang yang sombong. 

 

Saat ini, sedang membaca buku ‘AISYAH The True Beauty’, by : Sulaiman An-Nadawi, oleh Penerbit Pena. 

Salah satu bagian isinya adalah membahas bagaimana Aisyah sempat difitnah oleh Abdullah bin Ubay atau mendapatkan tuduhan keji karena berjalan bersama seorang sahabat yang bukan suaminya, saat mendampingi Rasulullah dalam perang  Muraisi,  sampai akhirnya Allah membebaskan Aisyah dari segala tuduhan. 

 Ayat yang diturunkan untuk membersihkan nama Aisyah pada saat ia difitnah adalah an-Nur [24]: 11-19  dan an-Nur [24] : 23-24. 

Untuk an-Nur [24] : 23-24 :“ Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar; pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap segala sesuatu yang dulu mereka kerjakan’ 

Sementara itu, Hassan bin Tsabit menggubah sebuah syair untuk memuji Aisyah, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Ishaq dalam Sirah-nya, yaitu sebagai berikut ”  

Dari keturunan Luai bin Ghalib, Aisyalah pemukanya

Mulia perilakunya, tak pernah lekang kehormatannya

Allah memberinya tabiat yang mulia

Tak ternoda oleh cela

Kalian bilang, aku terlibat persekongkolan

Jika demikian,

Maka jari-jemari ini yang akan mencambuk tubuhnya

sendiri

Bagaimana mungkin?

Cinta dan pengabdianku pada keluarga Rasul

Sepanjang hayat ini

Diatas seluruh manusia mereka berada

Tak tersentuh tangan-tangan yang berdosa

Dalam sebuah kesempatan, Hassan bersenandung dan langsung

Memuji Aisyah dihadapannya,

Ia terpelihara, sempurna akalnya, tak tercela

 Tak ada manusia yang pernah digunjingkannya 

Akan tetapi, Aisyah ingin mengingatkan bahwa Hassan terlibat dalam penyebaran berita dusta tentang dirinya. Karena itu ia berkomentar. “ Tetapi engkau Hassan, tidak seperti syair yang engkau gubah itu.”

Halaman Berikutnya »