Setelah tidur dengan lelapnya di Ferry yang membawa kami kira-kira 2 jam dari Macau ke Shenzhen, akhirnya kami tiba juga di ranah China Shenzhen dan segera lapor ke Imigrasi. Hal yang membedakan dengan imigrasi sebelumnya adalah kami harus antri berdasarkan nomor urut passport dan saat pemeriksaan para penjaganya menatap kami dengan tajam…hehe…(entah, apa ke aku aja ya?
).
Terus terang, perasaan penasaran dan was-was bermunculan dihatiku saat mulai duduk di bis yang akan membawa kami berkeliling sampai esok harinya. Perasaan was-was itu adalah takut kecopetan, takut ditipu dengan barang palsu or rusak, takut ditawari obat yang palsu, takut dengan kembalian uang palsu, dan lain-lainnya, yang mana telah merasuki otak kami sejak masih di Indonesia, yang lebih di perkuat lagi oleh tour guide di Hongkong sebelumnya yang mengingatkan kami untuk hati-hati di Shenzhen. Hmmm, jadi mikir, untuk tidak merencanakan belanja beneren di Shenzhen
.
Hujan deraslah yang menyambut kami di kota ini. Dan selama perjalanan dari Pelabuhan, kami melihat, ternyata kota Shenzhen ini hampir samalah stylenya dengan kota Jakarta. Kotanya sangat luas dan cukup padat, bahkan kami sempat juga mengalamai yang namanya macet di jalan dan yang membedakan dengan di Indonesia adalah kita jalan di sebelah kanan
. Persinggahan pertama sebelum ke hotel adalah makan malam…dan di kota inilah aku menemukan menu dengan rasa yang khas China (hampir mirip resto China di Indonesia) dengan menu bebeknya yang yummy, sayur Kailan, soup, Ikan, dll. Sampai-sampai ada teman yang sedikit tercengang menyaksikan kami yang muda-muda (ternyata bukan hanya aku
), yang dengan semangatnya MAKAN…hehe…Oh ya, di meja lain juga pada semangat makan, tapi makanan mereka agak berbeda ternyata karena memperebutkan rendang yang dibawa dari Indonesia
Setelah makan, kami langsung menuju hotel untuk check in dan lanjut lagi ke Lohu untuk mengunjungi tempat belanja murah yang terkenal di Shenzhen. Lohu ini sangat dekat dengan tempat hotel kami menginap, karena cukup dengan menyeberang via jembatan penyeberangan saja, kami sudah sampai. Entah ya, mungkin karena sudah di wanti-wanti untuk berhati-hati di Lohu, akhirnya aku tidak membeli apapun. Selain karena semua item barangnya yang sangat mirip kualitasnya bahkan hampir sama dengan di Mangga Dua, juga karena teman-teman yang lain juga agak takut untuk bertransaksi ….hehe… Sepertinya mental kami tidak siap untuk kalah dalam hal tawar menawar sebagaimana dengan ibu-ibu yang lain menawar. Kami takut, saat pulang di Indonesia dan ke Mangga Dua, kemudian mendapatkan barang yang kami beli, harganya jauh lebih murah di Mangga Dua …Hmmm, maaf ya pembaca, disini agak abu-abu apakah kami yang memang takut belanja atau anggaran kami yang terbatas
.
Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan lagi donk, dan semakin nyata kami bisa melihat kota Shenzhen seperti apa. Di kota ini, apartemen ada dimana-mana lengkap dengan jemurannya
. Pokoknya apartemen dan perkantoran seakan-akan bercampur jadi satu. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah museum tempat Batu Giok, setelah itu ke pusat pengobatan Tibet. Di tempat pengobatan ini, aku didiagnosa oleh Professornya dan memang benar sih kalau aku ada gangguan di lambung (maag githu, penyakit anak kos) dan kadang kurang darah. Oke thanks, tapi saat ditawari obat, aku tunda dulu, soalnya bingung kalau obatnya habis, belum tentu mampu balik lagi untuk tambah obat
. Hayoo…ini alasan aja, atau budgetnya yang terbatas…hehehe…
Makan siang dengan menu bebek and menu khas lainnya, adalah tetap menjadi santapan utama kami sebelum melanjutkan lagi visit ke Window of the World (WoW). Di tempat ini kami bisa melihat dan menikmati miniatur-miniatur tempat atau bangunan atau apalah yang khas dari hampir semua negara di dunia. Tentu saja yang namanya kamera sangat bekerja dengan aktif di tempat ini, khususnya di lokasi negara-negara yang unik. Tapi, untuk pasukan jomblo yang maniak foto, di tempat ini, kembali menjadi ajang pengambilan foto penuh makna
. Sampai akhirnya kami sadar kalau kami belum membeli souvenir sebagai oleh-oleh karena sudah waktunya kembali ke Bis, untuk berpindah tempat
.


Setelah berkeliling di WoW, kami lalu menonton pertunjukan China di lapangan terbuka dan opera di gedung Theater. Wah, pertunjukan yang sangat menarik dan sebagian besar dari kami sangat menikmati termasuk aku. Pertunjukan yang seru dalam bentuk drama perang-perangan yang di lengkapi dengan atraksi kuda dan pertunjukan seni yang unik dengan menunjukkan hampir semua budaya China dari berbagai negara bagian. Baru sadar, kenapa ya, aku belum pernah mewujudkan rencana untuk menonton secara langsung pertunjukan theater di TIM Jakarta yang notabene sangat dekat dengan kos ku. Mungkin mirip dengan pertunjukan di China ini atau malah lebih bagus kali’ ya …:).

