My References and Ideas Archives


@ku Cint@ Indon3si@12-14-2007, 12:37 PM

Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa………..

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Sayatidak ingin melihatnya menangis lagi. Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan Perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

 

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Adabanyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur. “Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. “Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.” “Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam.

 

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop suratperusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli. “Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas. “Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi suratitu.

 

Kepada YTH Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya. Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan.

Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda.Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah.

Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.

Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin Wassalamu’alaikum Wr Wb

 

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D .

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan. “Kenapa kamu memilih dia.” “Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.” “Maksudnya?” “Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.” “Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udahtidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya. “Gik…” “Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata.

Dini atkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan.

Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.

 Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan.

Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa.

Amin . —————————————————————————–

Source: http://forum.lareosing.org/archive/index.php/t-2804.html

source : http://sholihin.multiply.com/journal/item/2/The_Power_of_LOVE

Blog Entry The Power of LOVE Aug 15, ‘05 11:22 PM
for everyone

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah

tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana
mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat
cintanya kepada Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 165)

Judul
buku kecil ini mungkin mengingatkan kamu kepada sebuah lagu dengan
judul sama. Lagu yang didendangkan Celine Dion ini kayaknya asyik-asyik
aja didengerin oleh mereka yang sedang dilanda asmara dan diselimuti
kabut cinta. Dalam satu bait lagunya Celine Dion mamerkan suara emasnya
dengan untaian kata: “We’re heading for something/Somewhere I’ve never been/Sometimes I am frightened/ But I’m ready to learn/(‘Bout) Of the power of love”. Hmm… gimana, asyik nggak?

Oya,
kekuatan cinta juga mampu meluluhkan James Hetfield and the gang yang
tergabung dalam “Jamaah Metallica” untuk menuliskan lagunya yang paling
asyik dan paling manis menurut saya untuk didengar dan dirasakan; Nothing Else Matters. Kayak gini nih liriknya:

So close no matter how far
couldn’t be much more from the heart
forever trusting who we are
and nothing else matters

Seorang
teman saya yang sarjana bahasa Inggris sempat bikin penafsiran atas
lagu ini, arti singkat dari bait ini mungkin selevel bahasa Indonesia
yang ‘jauh di mata dekat di hati’. Ehm… hati bagi orang Barat sono
(atau mungkin secara universal) adalah tempat bersemayamnya orang-orang
yang kita kasihi dan sayangi. Jadi tak ada penggambaran yang lebih
dekat dan indah lagi untuk mewakili makna betapa seseorang itu begitu
kita sayangi daripada posisinya yang ada di hati. Hati itu selalu jujur
(baris 3 dan 4) yang selalu bisa kita percayai siapa pun adanya kita,
dan yang lain jadi tak begitu berarti lagi bila hati telah bicara.
Duilee..

Oya,
bait lainnya dalam lagu itu juga kayaknya cocok deh buat yang sedang
dilanda asmara. James Hetfield bersenandung asyik nan manis:

never opened myself this way
life is ours, we live it our way
all these words I don’t just say
and nothing else matters

Nah,
yang ini mungkin selevel dengan ‘dunia milik kita berdua’ (baris 2).
Sedang baris 1, opened itu bisa bermakna terbuka dan membiarkan
seseorang mengetahui banyak tentang diri kita dan menjadi bagian dari
kehidupan kita. Di sini ada faktor ‘percaya’ yang mendalam pada
ungkapan
baris 1. Frase itu begitu dalam maknanya: ‘never opened myself this
way’. Hal yang seumur-umur belum pernah ia lakukan, membuka diri bagi
orang lain. Mungkin ibarat gunung es itu, ini saatnya ia luluh. Dan
hanyalah si kekasih hati ini saja yang mampu melakukannya. Asyik banget
kan? Eh, kamu jangan keterusan nyanyi lho. Ehm.. kalo lagi kasmaran
emang bisa langsung nyetel dah! Kita yakin banget kok (pede abiz nih!).

Duiele..
sampe segitunya ya? Begitulah kalo sedang jatuh cinta. Kekuatannya akan
memberi efek yang dahsyat bagi yang sedang merasakannya. Beginilah
kekuatan cinta. Meski harus diakui bahwa cinta sebenarnya tak hanya
berhenti sebatas kasih-sayang dan saling memupuk rindu di antara dua
manusia yang berlainan jenis. Cinta begitu luas sobat. Dan, kita kudu
yakin bahwa kekuatannya akan membuat kita merasa takluk di hadapannya.

Selanjutnya baca aja di buku saya tersebut… :-)

Salam,
O. Solihin

rikaadinda
rikaadinda wrote on Aug 16, ‘05
hihihi… promosi bukunya melulu neeehhh…
sholihin
sholihin wrote on Aug 18, ‘05, edited on Aug 18, ‘05
Heuheheu.. gak apa2 deh, namanya juga jualan :P

 

source : http://sholihin.multiply.com/journal/item/2/The_Power_of_LOVE

CELINE DION – The Power Of Love

The whispers in the morning

Of lovers sleeping tight

Are rolling like thunder now

As I look in your eyes

I hold on to your body

And feel each move you make

Your voice is warm and tender

A love that I could not forsake

(first chorus)

Cause I am your lady

And you are my man

Whenever you reach for me

I’ll do all that I can

Lost is how I’m feeling lying in your

arms

When the world outside’s too

Much to take

That all ends when I’m with you

Even though there may be times

It seems I’m far away

Never wonder where I am

‘Cause I am always by your side

(repeat first chorus)

(second chorus)

We’re heading for something

Somewhere I’ve never been

Sometimes I am frightened

But I’m ready to learn

Of the power of love

The sound of your heart beating

Made it clear

Suddenly the feeling that I can’t go

on

Is light years away

(repeat first chorus)

(repeat second chorus)

source: http://triatmojo.wordpress.com/2006/09/05/celine-dion-the-power-of-love/

Ya, pagi ini rasa itu muncul, rasa kangen untuk menulis. Saya juga heran, kok menulis harus kangen, padahal biasanya, saya tidak merasakan itu, yang saya rasakan adalah beribu kata dihati yang ingin kutuangkan dalam coretan di blog ini.

Ya, pagi ini keinginan itu muncul, keinginan untuk menulis tanpa beban, mengalir dalam gerak jari di atas tuts keyboard dengan tatapan mata tanpa batas ke alam imajinasi dan khayalan

Ya, pagi ini  kursi dan mejaku menyambutku berkhayal dan berharap …

Spiritual

Arsip Tulisan untuk Kategori ini

Agustus 23, 2007 

It’s Not My Business ….Posted by nirma under Spiritual (edit this)
Leave a Comment 

It’s not my business to think about myself. My business is to think (dzikir) about God. It’s for God to think about me. Memang Allah ingat kita ketika kita ingat DIA 

 From :sms 6876 MSA (Muhammad Syafii Antonio)

*****

jannahmanis Says:
September 19, 2007 at 10:30 pm ebeberapa orang menganggap pernikahan suatu yang sakral, beberapa menganggap hal yang sulit terwujud, beberapa menganggap hal yang harus disegerakan, dan anggapan-anggapan yang lain. akhirnya banyak pendapat, kontroversi, tulisan, bahkan seminar-seminar yang mengangkat masalah yang satu ini.
jadi saya berpendapat juga, menikah itu adalah jawaban dari hati dan jalan dari Allah.
so, kamu pasti bisa merasakannya Nir……

Balas
  1. nirma Says:

    Juli 1, 2009 at 8:15 pm eJan,bagus sekali definisimu ces …
    Saya berharap menikah dengan melalui jalan itu Sister… AMIN…

    Balas
Dipingit 6 tahun untuk persiapan dinikahkan, maksudnya di training untuk menjadi perempuan, ibu dan istri yg baik dan santun?
Hmmmm, ada hal menarik dan yg baru sy tahu about Kartini dari acara ini …
=> Bagi Kartini, menikah bukan berarti menjadi penghalang utknya utk meraih cita2 atau sukses, apalagi kalau niatnya adalah tanda bukti utk berbakti pada org tua.
Ya, terbukti, Allah merestui cita2nya dengan memberikan suami yg tetap mendukung cita2nya tetap menulis dan lebih berkarya ….
Selamat Hari Kartini …21 April 2009

Halaman Berikutnya »