Saat ini, sedang membaca buku ‘AISYAH The True Beauty’, by : Sulaiman An-Nadawi, oleh Penerbit Pena. 

Salah satu bagian isinya adalah membahas bagaimana Aisyah sempat difitnah oleh Abdullah bin Ubay atau mendapatkan tuduhan keji karena berjalan bersama seorang sahabat yang bukan suaminya, saat mendampingi Rasulullah dalam perang  Muraisi,  sampai akhirnya Allah membebaskan Aisyah dari segala tuduhan. 

 Ayat yang diturunkan untuk membersihkan nama Aisyah pada saat ia difitnah adalah an-Nur [24]: 11-19  dan an-Nur [24] : 23-24. 

Untuk an-Nur [24] : 23-24 :“ Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik, yang lengah dan beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar; pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap segala sesuatu yang dulu mereka kerjakan’ 

Sementara itu, Hassan bin Tsabit menggubah sebuah syair untuk memuji Aisyah, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Ishaq dalam Sirah-nya, yaitu sebagai berikut ”  

Dari keturunan Luai bin Ghalib, Aisyalah pemukanya

Mulia perilakunya, tak pernah lekang kehormatannya

Allah memberinya tabiat yang mulia

Tak ternoda oleh cela

Kalian bilang, aku terlibat persekongkolan

Jika demikian,

Maka jari-jemari ini yang akan mencambuk tubuhnya

sendiri

Bagaimana mungkin?

Cinta dan pengabdianku pada keluarga Rasul

Sepanjang hayat ini

Diatas seluruh manusia mereka berada

Tak tersentuh tangan-tangan yang berdosa

Dalam sebuah kesempatan, Hassan bersenandung dan langsung

Memuji Aisyah dihadapannya,

Ia terpelihara, sempurna akalnya, tak tercela

 Tak ada manusia yang pernah digunjingkannya 

Akan tetapi, Aisyah ingin mengingatkan bahwa Hassan terlibat dalam penyebaran berita dusta tentang dirinya. Karena itu ia berkomentar. “ Tetapi engkau Hassan, tidak seperti syair yang engkau gubah itu.”